Hakikat dan Syarat Peserta Didik Perspektif Al-Quran

 




Hakikat dan Syarat Peserta Didik Perspektif Al-Quran

Oleh : Khoirun Nisa’ Rizqi Safitri

Pendidikan dalam Islam secara umum bertujuan untuk menjadikan hamba Allah yang berserah diri dan menjaga fithrah keagamaan yang dimiliki oleh seseorang sampai akhir hayatnya. Pendidikan juga memiliki peran penting untuk membina manusia sehingga menghasilkan peserta didik yang memiliki karakter melalui pokok ajaran islam (aqidah, ibadah dan akhlak)

Peserta didik adalah orang yang memerlukan pengetahuan, ilmu, bimbingan dan pengarahan. Islam berpandangan bahwa hakikat sebuah ilmu itu berasal dari Allah SWT, sedangkan proses perolehannya di lakukan melalui belajar kepada pendidik. Dalam Islam, peserta didik adalah setiap manusia yang sepanjang hidupnya selalu berada dalam proses, bimbingan, dan perkembangan untuk mewujudkan jati dirinya yang sesungguhnya. Peserta didik bukan hanya anak- anak yang sedang dalam masa pengasuhan guru dan orang tuanya saja, bukan pula anak - anak dalam usia sekolah, tetapi mencakup seluruh manusia baik sebagai individu maupun kelompok, ataupun manusia yang beragama Islam maupun tidak.

Peserta didik tidak hanya sekedar sebagai objek pendidikan, pada saat tertentu juga akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan  bahwa posisi seorang pesetrta didik tidak hanya sekedar pasif seperti gelas kosong yang siap menerima air kapanpun dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan guru - gurunya, sekaligus dalam upaya pengembangan keilmuan yang dimilikinya.

Untuk mendapatkan nilai - nilai kehidupan, ia juga harus mendapatkan bimbingan sepenuhnya dari pendidik. Dalam Islam, peran pendidik ialah untuk melurusakan jalan yang ditempuh oleh peserta didik. Tanpa pendidik, jalan yang ditempuh olehnya tidak akan berjalan dengan baik. sebagaimana firman Allah dalam surat Ar - Rum ayat 30:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Artinya :” maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah(tataplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah (itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Dilihat dari kedudukannya, peserta didik adalah makhluk yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menurut masing - masing fithrahnya. Mereka sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju arah titik optimal sesuai fithrahnya. Dengan demikian, supaya pendidikan Islam dapat berhasil dengan sebaik - baiknya, maka harus menempuh jalan pendidikan yang sesuai dengan fithrahnya peserta didik.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA dalam kitab Ta’limul Mutaalim, memberikan syarat bagi peserta didik dengan enam macam, yang merupakan kompetensi mutlak yang sangat dibutuhnyan dalam proses tercapainya tujuan pendidikan, adapun syarat - syaratnya

ذُكَـاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ * وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانِ

 

(1) Cerdas (berakal); (2) Antusias (hobi belajar); (3) Sabar (gigih dan tabah); (4) Biaya (sarana-prasarana) * (5) Bimbingan guru; (6) Waktu lama.

       1.           Pertama  memiliki kecerdasan (dzaka), yaitu penalaran, imajinasi, wawasan, pertimbangan dan daya penyesuaian sebagai proses mental yang dilakukan secara cepat dan tepat.

       2.            Kedua memiliki hasrat (hirsah), yaitu kemauan, gairah, moril dan motivasi yang tinggi dalam mencari ilmu, serta tidak merasa puas terhadap ilmu yang diperolehnya. Hasrat ini menjadi penting sebagai persyaratan dalam pendidikan, sebab persoalan manusia tidak sekedar mampu tetapi juga mau. Simbiosis antara mampu dan mau akan menghasilkan kompetensi dan kualifikasi pendidikan yang maksimal. Motivasi belajar dalam islam adalah agar seseorang itu dapat mengenal pada Allah SWT, karena dia hanya mengangkat derajat bagi mereka yang beriman dan berilmu, sebagaimana firman Allah SWT surat Al – Mujadalah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ – ١١

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan."

       ketiga  Bersabar dan tabah (ishtibar) serta tidak mudah putus asa dalam belajar, walaupun banyak rintangan dan hambatan, baik hamabatan ekonomi, psikologis, sosiologis, politik, bahkan administratif. Sabar adalah menahan diri, atau lebih tepatnya mengendalikan diri, yaitu menghindakan seseorang dari rasa resah, cemas, marah, dan kekacauan terutama dalam proses belajar. Sabar juga meliputi sabar dari maksiat, melaksanakan perintah, dan menerima cobaan dalam proses pendidikan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali – Imran ayat 200:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

       3.          keempat   Mempunyai seperangkat modal dan sarana (bulghah) yang memadai dalam belajar. Dalam hal ini, biaya memang sangat penting, yang di gunakan untuk kepentingan honor pendidik, membeli buku dan peralatan sekolah dan biaya pengembangan pendidikan secara luas. Secara spiritual, inilah investasi hakiki dan abadi yang dapat dinikmati untuk jangka panjang dan masa depan di akhirat kelak.

       4.            kelima adanya petunjuk pendidik (irsyad ustadz), sehingga tidak terjadi salah pengertian terhadap apa yang dipelajari. Dalam belajar, seseorang dapat melakukan metode autodidak, yaitu belajar secara mandiri tanpa bantuan siapa pun, sekalipun demikian, pendidikan masih tetap berperan pada peserta didik dalam menunjukkan bagaimana metode belajar yang efektif berdasarkan pengalaman sebagai seorang dewasa, serta yang terpenting, pendidik sebagai sosok yang perilakunya sebagai suri tauladan bagi peserta didik. Dalam banyak hal, unteraksi pendidikan tidak dapat digantikan dengan membaca, melihat dan mendengar jarak jauh, tetapi dibutuhkan face to face antara kedua belah pihak yang di dasarkan atas suasana psikologis penuh dengan rasa empati, simpati, atensi, kehangatan dan kewibawaan. Seperti firman Allah dalam surat An – Nisa ayat 160

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَكُمُ الرَّسُوْلُ بِالْحَقِّ مِنْ رَّبِّكُمْ فَاٰمِنُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗوَاِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Artinya: wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul itu kepadamu dengan membawa kebenaran dari Tuhanmu. Maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kafir(maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah dan adalah Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. (QS. An-Nisa : 160)

       5.            keenam masa yang panjang (thuwl zaman), yaitu belajar tidak henti dalam mencari ilmu sampai pada akhir hayat, min mahdi ila lahdi (dari buaian sampai dengan liang lahat). Syarat ini memang beirmpikasi bahwa belajar tidak hanya di bangku sekolahan saja atau di bangku kuliah, akan tetapi semua tempat yang menyediakan informasi tentang pengajaran atau pun pengembangan kepribadian, pengetahuan, keterampilan itu merupakan lembaga pendidikan.

Dengan demikian sudah jelas bahwa pendidikan tanpa adanya dan kehadiran peserta didik tidak akan menimbulkan sebuah pendidikan yang sempurna, juga seyogyanya bagi seorang peserta didik memiliki dan memenuhi beberapa syarat diatas. Tetap menjadi peserta didik yang mempunyai jiwa pelopor bukan pengekor. (nis)

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Strategi Mengajar di Era Pandemi